Begini Salah Begitu Salah, Harus Bagaimana ?

Pernahkah kita merasa serba salah ? Ketika kita sudah melakukan apa yang kita anggap benar tetapi orang lain atau masyarakat selalu menyalahkan apa yang kita lakukan, padahal kita melakukan sesuatu itu dengan tujuan yang sangat baik, contoh : kita melakukan perubahan untuk urusan yang sangat baik, sebut saja untuk memakmrkan Rumah Allah SWT yaitu mesjid, tetapi sebagian orang mengatakan bahwa kita so alim, yang lainnya lagi mengatakan orang tobat, orang suci dan lain sebagainya.

Pandangan orang banyak terhadap sesuatu selalu saja menilai dengan sisi negatif, tanpa melihat sisi positif dalam segala hal, buktinya banyak Ustadz dan Ulama juga tokoh pemuka agama disuatu daerah yang menjadi korban serba salah ini, bahkan bukan hanya pemuka agama, pihak pemerintahan setempat pun sering menjadi bahan serba salah ini.

Kita ambil dari kisah Inspiratif Islam tentang serba salah yang selalu dan sering terjadi di masyarakat.

Kisah Keledai yang Membuat Bingung
Disuatu daerah terdapatlah Bapak dan Anak yang berprofesi sebagai petani, suatu hari keduanya sepakat untuk membeli kuda ke kota lain untuk dibawanya kedaerah tempat tingal Sang Bapak, sebut saja nama Bapak ini adalah Pak Dadang dan anaknya kita sebut dengan Asep, 

Pak Dadang dan Asep pun pergi ke kota yang menyediakan penjualan kuda, karena ini terjadi di masa lalu dan belum ada kendaraan yang memadai akhirnya Pak Dadang dan Asep berjalan kaki pergi ke kota sebrang dengan tujuan untuk membeli seekor kuda yang nantinya akan dijadikan alat transportasi pengiriman dan pengambilan hasil panen juga bibit.

Setibanya di kota tujuan, ternyata kuda yang mau di beli oleh Pak Dadang itu harganya sangat mahal, sebut saja harganya 5 juta rupiah, sementara Pak Dadang hanya mempunyai 2 juta rupiah, alhasil Pak Dadang pun tidak berhasil membeli kuda tersebut, namun dengan hati yang lelah akibat perjalanan jauh Pak Dadang pun akhirnya meminta pendapat Asep tentang kejadian ini, Akhirnya Pak Dadang dan Asep sepakat untuk membeli Keledai saja, Keledai juga bisa dijadikan alat untuk angkut mengangkut, karena harga keledai itu 1.5 juta, dan sisanya bisa dijadikan bekal untuk perjalanan pulang.

Dalam perjalanan pulang keduanya pun sepakat untuk menaiki keledai tersebut, tiba-tiba ada seorang kakek yang berbicara kepada mereka "Kalian ini manusia yang tak punya hati, keledai kecil kalian naiki berdua, apa kalian tidak kasihan melihat keledai kecil itu, bisa mati itu keledai",

Mendengar ucapan kakek tersebut akhirnya keduanya turun dan membuat kesepakatan untuk bergantian menaiki keledai tersebut, dan sampailah Asep yang pertama karena kedudukannya sebagai seorang anak dan bapaknya sangat menyayangi Asep, tak lama kemudian mereka tiba di suatu perkampungan, dan alangkah terkejutnya Asep ketika ada orang yang berteriak "Anak durhaka, enak-enakan naik keledai sementara Ayah sendiri disuruh menuntun keledai", mendengar perkataan seperti itu Asep pun turun dan meminta Ayahnya untuk naik.

Tidak lama meninggalkan perkampungan tersebut tibalah mereka dikampung kedua, dan yang lebih mengejutkan adalah seorang warga juga berseru kepada Pak Dadang "Eh.. Jadi orang tua tidak tau malu, anak nya cape eh bapaknya enak-enakan naik keledai", mendengar seruan seperti itu pun akhirnya Pak Dadang turun, dan mereka berdua bersama-sama menuntun keledai tersebut, dan tibalah mereka dikampung selanjutnya.

Dikampung selanjutnya mereka ditertawakan anak kecil sambil berbicara kepada ibunya "Ibu, itu mereka sangat bodoh, masa membawa keledai tetapi tidak mereka naikin, buat apa coba Bu bawa keledai kalau tidak ada gunanya", mendengar ucapan anak tersebut Pak Dadang kebingungan. Akhirnya dengan terpaksa dan sangat lelah mendengar komentar-komentar warga, mereka pun sepakat untuk menggendong keledai tersebut.

Dan apa yang terjadi, mereka semakin ditertawakan, sampai ada yang berkata "Keledai itu dinaikin bukan di gendong, kalian ini terlalu bodoh untuk mempunyai seekor keledai". Tidak ada yang bisa dilakukan lagi oleh Pak Dadang dan Asep, entah bagaimana akhir dari cerita ini, mungkin keledai disembelih atau dilepaskan, entahlah.

Ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kisah diatas, itulah komentar-komentar yang selalu ada dilingkungan bermasyarakat, kita melakuakan A dianggapnya salah, kita juga melakukan B itu juga salah. Satu pesan moral yang bisa kita ambil, tidak akan pernah benar apa yang kita lakukan dimata orang lain, selama kita berkecimpung didalam lingkungan masyarakat, kerjakanlah apa yang kita anggap benar, dan tentunya benar menurut syariat Islam jangan benar menurut nalar sendiri, dan biarkanlah orang lain berkomentar dan mengganggap kita apapun, yang penting kita melakukan kebenaran, apalagi kebenaran dalam membangun Agama Allah SWT.

Akan banyak sekali hal negatif yang selalu orang lain sampaikan, tergantung kita sendiri yang menyikapinya, jangan pernah kalah jika kita benar, dan jangan pernah mau menang jika kita salah.

Sekian dari saya, semoga kisah ini menjadi manfaat yang sangat amat berharga bagi kita semua.

Wassalam.
Tags :

Related : Begini Salah Begitu Salah, Harus Bagaimana ?

0 Response to "Begini Salah Begitu Salah, Harus Bagaimana ?"

Post a Comment

PERHATIAN !!!

Terima Kasih Telah Berkunjung.
Saya sangat senang dengan pengunjung saya yang memberikan komentar setiap kali selesai membaca artikel saya, itu adalah cara untuk memberitahu saya bahwa dia telah membaca artikel saya, dan membuat saya dengan senang hati akan mengunjungi blog pengunjung tersebut (jika pengunjung mempunyai blog)

- Berkomentar Dengan Baik Dan Sopan
- No Link Aktif
- Boleh Rekomendasi
- Suka ? Bagikan !