Gejolak Transportasi Online dan Reguler, Seharusnya Mencontoh Kantor POS

Akhir-akhir ini di Jakarta dan sekitarnya sedang kisruh antara Transportasi online dan reguler, Antara Uber Taksi dan Taksi Reguler, antara Go-Jek dan tukang ojek pangkalan, banyak sekali kerusahan yang terjadi hari ini, entahlah seharusnya ini bukan menjadi bagian dari bahasan saya, tetapi apa yang terjadi di berita-berita televisi ? ini jelas mesti menjadi perhatian seluruh pihak termasuk saya.

Demo Anarkis Berujung Saling Cegat
Hari selasa kemarin seluruh supir taksi reguler melakukan demo besar-besaran menuntut pemerintah untuk memberhentikan transportasi online atau taksi aplikasi dan go-jek yang menjadi pesaingnya, memang itu sah sah saja mereka untuk menyampaikan aspirasinya tetapi jangan sampai anarkis juga.

Kenapa saya bilang anarkis ? saya melihat diberita dan media lainnya, ketika melakukan demo para supir taksi reguler mencegat Taksi reguler lainnya yang sedang mencari nafkah alias tetap jalan tidak ikut demo, sampai Taksi nya di hancurkan, penumpangnya di keluarkan, bahkan ada penumpang yang sakit tetap di hancurkan, kan sesama pemain taksi, ko taksi seperusahaan di hancurin gara-gara tidak ikut demo ? Kan aneh.

Padahal yang tidak ikut demo adalah sopir yang sangat baik menurut saya, kenapa baik ? mereka tetap mencari nafkah untuk keluarganya tanpa takut tersaingi oleh transportasi online dan semacamnya, ingat nafakah itu kewajiban yang sangat wajib, mending mencari nafkah sama-sama dari pada riweh demo mah euy.

Pas sedang demo, ada Go-Jek lewat, di lempari batu dan dikejar-kejar, ini apa yah ? orang lain nyari nafkah di kejar-kejar juga, tapi memang sih mereka ini sama pada dasarnya saling membenci, bukan hanya transport tasi reguler saja yang anarkis, go-jek jga anarkis, terbukti mereka sempat ribut sama tukang ojek pangkalan dengan kata-kata, "Apaan masih di pangkalan" ini jelas sangat menyulut permusuhan lebih lanjut, belum lagi diberitakan tukang go-jek yang menghancurkan taksi di parkiran salah satu rumah makan.

Apa yang semestinya
Menurut orang bodoh dan tidak mengerti apa-apa seperti saya, lebih baik kalian bedamai, saling bergandengan tangan dan sama-sama berjuang untuk mencari nafkah buat anak istri anda, itu kewajiban dari pada cape-cape saling serang, saling cegat dan saling memusuhi.

Berkaca Pada Kantor POS
Jika memang anda mempunyai saingan, sebaiknya anda memperbaiki infrastruktur armada anda dari pada menyerang saingan anda, apa salahnya dengan online ? Anda saja dulu sebelum ada telekomuniasi anda pasti kalau mau mengabari apa-apa yang sangat pasti pergi ke rumah kerabat, atau paling tidak kirim surat lewat POS, dan keterima nya paling cepat 2 jam lebih. Coba sekarang setelah ada telpon dan juga handphone, kalau ada apa-apa anda tinggal pijit Nomor kerabat trus hallo deh, ini online juga kan ?

Coba dulu kantor pos begitu populer dan sangat dibutuhkan, tapi setelah adanya SMS, telpon sampai internet, lama-lama para pengguna POS mlai beralih, jelas kantor POS merasa rugi kan ? Tetapi mereka tidak sampai sepi pengunjung karena mereka memperbaiki infrastruktur sampai menyediakan fasilitas lainnya lagi selain kirim surat.

Malah mereka (kantor POS) masih jaya hingga detik ini. Ah mereka kan milik Negara, pasti di biayayain sama negara ? Eh jangan salah taksi yang anda gunakan juga bukan milik anda, tapi milik BOS anda, kenapa anda tidak meminta BOS anda untuk memperbaik fasilitas dan yang lainnya di Taksi anda, jelas itu bakal jadi persaingan yang seru dari pada menantang dan anarkis.

Ingat kita tiba bisa terus menolak hal baru di dunia ini, hal baru akan selalu berdatangan silih berganti, tinggal kitanya saja yang pintar-pintar memilih dan memanfaatkannya, dari pada tertegun sendiri dan sakit gara-gara ketakutan dengan hal baru.

Maaf jika saya tidak pantas berbicara seperti ini, saya hanya orang bodoh yang menertawakan kejadian ini, dan saya hanya anak kecil yang tersenyum melihat orang tua yang saling bermusuhan, saya hanya orang awam yang terketuk hatinya saat menyaksikan seorang bapak yang rela meninggalkan kewajiban mencari nafkah hanya untuk berteriak dan so jagoan di jalanan.

Sekian dari saya, semoga Indonesia menjadi lebih baik.
Tags :

Related : Gejolak Transportasi Online dan Reguler, Seharusnya Mencontoh Kantor POS

0 Response to "Gejolak Transportasi Online dan Reguler, Seharusnya Mencontoh Kantor POS"

Post a Comment

PERHATIAN !!!

Terima Kasih Telah Berkunjung.
Saya sangat senang dengan pengunjung saya yang memberikan komentar setiap kali selesai membaca artikel saya, itu adalah cara untuk memberitahu saya bahwa dia telah membaca artikel saya, dan membuat saya dengan senang hati akan mengunjungi blog pengunjung tersebut (jika pengunjung mempunyai blog)

- Berkomentar Dengan Baik Dan Sopan
- No Link Aktif
- Boleh Rekomendasi
- Suka ? Bagikan !